Rabu, 19 Agustus 2020 | 15:37 WIB

Dirgahayu RI: Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon


Dilihat: 181 kali

Dirgahayu RI: Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon


Supriyanto, SP., MSi., Direktur Politeknik Cendana

Aktivitas gowes, akhir-akhir cukup menjamur, mulai dari Aceh sampai dengan Papua, di kota maupun di pedesaan, kondisi ini merupakan salah satu dampak positif dari masa pandemi Covid-19. Meskipun demikian ada juga dampak kurang baik, di Banda Aceh ibu-ibu bikers terkena teguran oleh Wilayatul Hisbah (WH) karena pakaian yang digunakan dianggap kurang sopan dan tidak menggambarkan ketentuan Syariat Islam, di Jakarta lain lagi ceritanya sekumpulan bikers dinyatakan Positif Covid-19 setelah mereka melakukan gowes bersama, para pencuripun cukup jeli memanfaatkan keadaan kalau selama ini mereka mencuri sepeda motor sekarang mereka mengincar sepeda, disamping lebih mudah harga jualnya pun lebih tinggi. Namun sekali lagi, aktivitas gowes sangat banyak manfaat serta dampak positifnya.

Penjualan sepeda di beberapa toko sepeda di Medan cukup menggeliat, bahkan untuk merek tertentu toko sudah kehabisan stok terutama sepeda impor, bahkan konsumen rela indent. Merek sepeda import yang cukup familier antara lain Specialized, Ridley Noah, Cervelo, Ritte, Canyon, Cannondale, dan Brompton, merek terakhir termasuk yang paling populer di negara kita. Perkara indent ini ada fenomena yang cukup menarik, saat ini produsen sepeda asal Inggris merek Brompton mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan, kabarnya pemesan terbanyak dari Indonesia. Sebagai gambaran harga 1 unit Brompton yang termurah adalah Rp. 37,5 juta (Brompton B75 2020 Blue Folding Bike Sepeda Lipat, Blibli), sebuah harga yang cukup fantatis. Coba bandingkan dengan merek lokal, Polygon type rapid 20 dibandrol Rp. 3 jt (Shopee), atau Kreuz sepeda home made dari Bandung yang dibandrol Rp. 3,75 jt. Dua produk dalam negeri tersebut tidak kalah bersaing dengan produk impor, apalagi bila dilihat dari sisi harga, satu berbanding sepuluh.

Menyikapi kondisi ini menjadi teringat dua hal, yang pertama adalah pernyataan Pak Habibie  tentang harga 1 unit pesawat, beliau berpendapat bahwa 1 kg pesawat terbang setara dengan 450 ton beras (Detikfinance). Artinya ketika kita impor 1 unit pesawat Boeing, sama saja kita  memberikan nafkah untuk ribuan pekerja Boeing, yang notabene bukan orang Indonesia. Hal yang kedua adalah salah satu statemen dari perwakilan USAID pada sebuah rapat awal tahun 2000-an bahwa Indonesia adalah pasar potensial di Asia, mereka tidak memperdulikan pasar lain semisal RRC yang jumlah penduduknya lebih dari 1 milyar, karena di RRC lebih dominan produksi sendiri pakai sendiri, tetapi rakyat Indonesia sebaliknya lebih menyukai barang-barang produk luar negeri. Suatu cara hidup dan cara pandang yang mesti kita ubah kedepannya sehingga dapat mendorong aktivitas ekonomi yang lebih produktif di dalam negeri.

Hari ini kita sudah merdeka selama 75 tahun, tetapi sesungguhnya baru merdeka secara fisik, merdeka secara ekonomi masih menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. Bagaimana kita mau merdeka secara ekonomi kalau hanya untuk urusan sepeda saja masih menyukai produk impor, padahal produk dalam negeri cukup kompetitif baik dari sisi kualitas maupun harga. Sebagai contoh KREUZ, berasal dari kata KAREUEUS yang berarti KEBANGGAAN, keberadaanya dapat menghidupkan 130-an UMKM, Polygon dengan ribuan karyawannya yang telah mampu ekspor sepeda ke berbagai belahan dunia. Banyak produk lain yang jumlahnya ribuan yang sebenarnya perlu kita dukung keberadaannya, sehingga dapat menggerakan roda perekonomian secara masif. Perayaan Kemerdekaan RI yang ke 75 ditengah pandemi Covid-19 menjadi momen yang tepat untuk membangkitan nasionalisme melalui penggunaan barang produksi dalam negeri secara lebih  intensif.

Penggunaan barang produksi dalam negeri secara otomatis akan dapat menggerakkan industri dalam negeri, sehingga industri tersebut dapat memberikan kesempatan kerja bagi jutaan saudara-saudara kita yang pada saat ini mungkin sedang dirumahkan, dampaknya adalah akan ada jutaan warga negara yang mendapatkan nafkah dengan lebih baik. Mempertimbangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada posisi minus, tentunya langkah tersebut akan sangat positif perekonomian negara kita. Harapan ini selaras dengan pernyataan Presiden Jokowi pada sidang tahunan MPR dan DPR, 14 Agustus 2020, beliau menyampaikan bahwa saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Lompatan-lompatan besar tersebut pilihannya ada di anda dan kita semua. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA.

Sumber: https://lldikti1.ristekdikti.go.id/


Bila artikel ini bermanfaat silahkan share Dirgahayu RI: Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon ini dengan teman anda, Terima kasih sebelumnya

Artikel Terkait 'indonesia'

Dirgahayu RI: Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon dibaca (181)


Berikan Komentar Anda Pada Artikel Dirgahayu RI: Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon
Search Topics
SEMINAR NASIONAL Teknologi Komputer & Sains (SAINTEKS) 2019
Seminar Nasional Multidisiplin Sebatik 2018 (SNSEBATIK)
Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer
Seminar Nasional Sains dan Teknologi Informasi (SENSASI)
Seminar Nasional Universitas Pasir Pangaraian
Top Artikel
Terbanyak Didownload

Kamis, 5 Desember 2019 | 15:59 WIB Dilihat 2578 kali

Download Materi Proposal Hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Senin, 18 November 2019 | 09:19 WIB Dilihat 2250 kali

Download Materi Workshop Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Sabtu, 27 Juli 2019 | 00:12 WIB Dilihat 1184 kali

Download Materi Pembicara Seminar Nasional 2nd SENSASI 2019
Terbanyak Dilihat

Jumat, 29 November 2019 | 15:01 WIB Dilihat 11305 kali

SEMINAR NASIONAL Teknologi Komputer dan Sains (SAINTEKS) 2020

Rabu, 28 November 2018 | 11:32 WIB Dilihat 10878 kali

SEMINAR NASIONAL Teknologi Komputer & Sains (SAINTEKS) 2019

Senin, 17 Juni 2019 | 17:07 WIB Dilihat 7055 kali

Seminar Nasional Sains dan Teknologi Informasi (SENSASI) 2019

Senin, 6 Agustus 2018 | 07:24 WIB Dilihat 4851 kali

Begini Penjelasan Direktur BAN PT, Terkait Similarity Terhadap Borang Akreditasi

Sabtu, 6 April 2019 | 13:16 WIB Dilihat 4315 kali

Seminar Nasional Riset Dan Information Science (SeNaRis) 2019
 (C)opyright  mesran.web.id 2018